Mohon maaf belum ada gambar slide, ini hanya contoh saja

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Mohon maaf belum ada gambar slide, ini hanya contoh saja

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Mohon maaf belum ada gambar slide, ini hanya contoh saja

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Mohon maaf belum ada gambar slide, ini hanya contoh saja

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Mohon maaf belum ada gambar slide, ini hanya contoh saja

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Artikel Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Kita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 November 2013

Kepala, Pemimpin, Kepemimpinan dan Kependidikan Pendidikan



Kepala, Pemimpin, Kepemimpinan dan Kependidikan Pendidikan
Oleh : Istiqomah Walidah
Pengertian Kepala dan pemimpin
Pengertian kekepalaan mempunyai konotasi adanya kedudukan dalam hirarkhi organisasi, yang di dalamnya terkandung tugas, wewenang dan tanggung jawab yang telah ditentukan secara formal. Kekepalaan berkaitan dengan wewenang sah berdasarkan ketentuan formal, untuk membawahi dan memberi perintah-perintah kepada kelompok orang-orang “bawahan” tertentu dan dalam bidang masalah tertentu pula. Seorang kepala unit belum tentu dapat menjadi leader.
Demikian pula seorang leader belum tentu mempunyai kedudukan sebagai kepala. Seorang yang tidak mempunyai pengaruh dapat saja menjadi seorang kepala instansi, dan ia baru menjadi seorang leader kalau ia mampu mempengaruhi orang lain. Oleh karena itu, pimpinan yang mengepalai suatu organisasi atau salah satu unitnya harus menyadari bahwa kedudukan formal saja belum tentu merubah perilaku anak buahnya sesuai dengan yang diharapkan agar memudahkan dan melancarkan pencapaian tujuan organisasinya, atau mampu menciptakan kerjasama yang baik antara bawahannya.
 Dari pengertian tentang kepemimpinan tersebut di atas, jelas kepemimpinan itu tidak perlu terkait dengan batasan-batasan dan ketentuan-ketentuan formal. Maka seseorang yang melaksanakan kekepalaan mungkin belum dapat disebut sebagai orang pemimpin. la sekaligus dapat disebut sebagai seorang pemimpin, apabila ia juga mampu mempengaruhi bawahan sehingga mereka dengan penuh pengertian, kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti dan mentaati kehendak atau perintah-perintahnya.
Perbedaan Leadership (kepemimpinan) dan Headship (kekepalaan)
Pada umumnya kata leadership diterjemahkan sebagai Kepemimpinan. Leadership dapat ditafsirkan dalam dua pengertian. Pertama, meliputi pengertian headship dan kedua, leadership ditafsirkan berbeda dengan headship.
Bass misalnya mendefinisikan leadership dalam arti luas, dalam arti meliputi banyak cara yang dilakukan oleh leaders dan heads serta berbagai sumber yang digunakan untuk mengungkapkan kekuasaannya.
C.A Gibb (1969) membedakan antara leadership dengan headship sebagai berikut:
1.      Headship diselenggarakan melalui suatu sistem yang diorganisasikan dan tidakberdasarkanpengakuanspontanparaanggotanya.
2.      Tujuan kelompok dipilih oleh kepala (head person) sesuai dengan minat dan tidak ditentukan oleh kelompok itu sendiri secara internal.
3.      Dalam headship/ hanya ada sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali tindakan bersama dalam mencapai tujuan.
4.      Dalam headship, ada jurang sosial yang lebar antara anggota-anggota kelompok dan kepala (the head), yang mengusahakan agar ada jarak sosial ini, sebagai suatu alat bantu untuk memaksa kelompoknya.
5.      Kewibawaan seorang pemimpin (leader) secara spontan diakui oleh para anggota kelompok yang bersangkutan dan terutama oleh para pengikutnya. Sedangkan kewibawaan seorang kepala (the head) timbul karena adanya kekuasaan dari luar kelompok yang mendukung seseorang itu terhadap kelompokyangbersangkutan. (http://kkpigama.wordpress.com/2010/05/29/kepala-vs-pemimpin/)
Pengertian Kepemimpinan
Definisi kepemimpinan :
1.      Menurut Prajudi Atmosudirdjo pengertian kepemimpinan dapat ditelaah dari berbagai segi :
a.       Kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai suatu kepribadian (pernality) seseorang untuk mendatangkan keinginan pada kelompok orang – orang untuk mencontohnya atau mengikutinya, atau mencontohnya.
b.      Kepemimpinan disebut juga sebagai penyebab terjadinya perubahan perspektif atau sikap seeseorang terhadap organisasi formal maupun informal.
c.       Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok orang agar menaatinya. (Ngalim, 2008 :25 – 26)
2.      Kepemimpinan adalah keseluruhan tindakan untuk memberi teladan sehingga dapat mempengaruhi orang lain dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. ( Hamzah, 1981 : 115)
3.      Kepemimpinan adalah potensi yang dimiliki manusia sejak dalam kandung  dan dikembangkan untuk mempengaruhi manusia.  (Toto, 2006 : 164)
                                       
Istilah kepemimpinan bukan merupakan istilah baru bagi masyarakat. Di setiap organisasi, selalu ditemukan seorang pemimpin yang menjalankan organisasi. Pemimpin berasal dari kata “leader” yang merupakan bentuk benda dari “to lead” yang berarti memimpin. Untuk memahami pengertian kepemimpinan secara jelas, maka perlu dikaji beberapa definisi yang dikemukakan para ahli kepemimpinan.
Banyak ahli yang mengemukakan pengertian kemimpinan. Feldmon mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah usaha sadar yang dilakukan pimpinan untuk mempengaruhi anggotanya melaksanakan tugas sesuai dengan harapannya. Di sisi lain, Newell mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi orang lain untuk mencapai pengembangan atau tujuan organisasi. Kedua pendapat tersebut sesuai dengan pendapat Stogdil yang mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas kelompok untuk mencapai tujuan organisasi (Sujak, 1990:12).
Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan para ahli kepemimpinan tersebut, dapat digarisbawahi bahwa kepemimpinan pada dasarnya adalah suatu proses menggerakkan, mempengaruhi dan membimbing orang lain dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi. Ada empat unsur yang terkandung dalam pengertian kepemimpinan, yaitu unsur orang yang menggerakkan yang dikenal dengan pemimpin, unsur orang yang digerakkan yang disebut kelompok atau anggota, unsur situasi dimana aktifitas penggerakan berlangsung yang dikenal dengan organisasi, dan unsur sasaran kegiatan yang dilakukan.
Pengertian Kependidikan Pendidikan
Istilah kapemimpinan dalam dunia kependidikan sebenarnya mengandung dua pengertian, dimana kata “pendidikan” menerangkan di mana kepemimpinan itu berlangsung dan sekaligus menjelaskan pula sifat atau ciri – ciri kepemimpinan.
Menurut Soetopo dan Soemanto (1982) menjelaskan bahwa kepemimpinan pendidikan ialah kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan pendidikan secara bebas dan sukarela.
Fungsi utama pemimpin pendidikan adalah kelompok kelompok untuk belajar memutuskan dan bekerja, antara lain:
1.      Pemimpin membantu terciptanya suasana persaudaraan, kerjasama dengan penuh rasa kebebasan.
2.      Pemimpin membantu kelompok untuk mengorganisir diri yaitu ikut serta dalam memberikan rangsangan dan bantuan kepada kelompok dalam menetapkan dan menjelaskan tujuan.
3.      Pemimpin membantu kelompok dalam menetapkan prosedur kerja, yaitu menganalisis situasi untuk kemudian menetapkan prosedur mana yang paling efektif dan praktis.
Kepemimpinan Visioner dan Sentratejik
Kepemimpinan visioner adalah kemampuan pemimpin dalam mencipta, merumuskan, mengkomunikasi/ mensosialkan/ mentransformasikan dan mengimplementasikan pemikiran – pemikiran ideal yang berasal dari dirinya atau sebagai hasil interaksi sosial diantara anggota organisasi dan  yang diwujudkan melalui komitmen semua personil.
Cara agar menjadi pemimpin visioner:            
1.      Memahami konsep Visi.
2.      Memahami Karaktersitik dan Unsur Visi.
3.      Memahami Tujuan Visi.

Hal ini perlu  dikuasai agar bisa menjadi perekayasa masa depan, agen perubahan, penentu arah organisasi yang menjadi prioritasnya, pelatih dan pembimbing yang profesional. Dengan memahami tentang Visi, diharapkan seorang pemimpin dapat melakukan perubahan dalam menampilkan kekuatan manajerial dan pembentukan ciri khas budaya guna merubah masa depan pendidikan yang produktif (sesuai kebutuhan dan tuntutan zaman), sehingga dapat menghasilkan sumber daya manusia yang handal sesuai harapan dan tujuan yang telah ditetapkan.

Sedangkan kepemimpinan stratejik adalah Kemampuan untuk mengantisipasi, memberi inspirasi, mempertahankan fleksibilitas, dan memberdayakan orang lain untuk menciptakan perubahan stratejik yang diinginkan.





Minggu, 14 Juli 2013

Hisab Hakiki Wujudhil Hilal (1 Ramadhan)

HARI BERMUHAMMADIYAH
Menyongsong Ramadhan 1434 H
di Masjid Besar Kota Sukoharjo

Assalamu'alaikum sahabat IPM.....
Dengan media blog ini semoga bisa menjadi alat untuk amar ma'ruf nahi mungkar. Mengingat begitu bebasnya dunia maya. Melebihi bebasnya di kehidupan nyata ini. Dengan ini pula semoga bisa mengingatkan pada teman-teman semua bahwa kita selalu dalam rekaman dan pengawasan Alloh SWT. Mengingat bahwa sekarang adalah bulan penuh berkah, bulan kebaikan dan bulan dari seribu bulan. Sebelumnya mari kita tengok ke belakang, bahwa dalam penetapan 1 Ramadhan ada perbedaan pendapat. Ada yang membela habis-habisan bahwa 1 Ramadhan yang paling benar adalah "1 Ramadhan yang aku anut". Trus saling adu argument deh... ujung-ujungnya saling menimbulkan amarah satu dengan yang lainnya, masak memasuki Bulan Ramadhan dengan kebencian? wuhhhhhh rugi Broooooooooooooooo....
Yang parahnya lagi ada orang yang ikut-ikutan trus ngolok-olok yang lain tanpa tahu ilmu dasarnya. "Astaghfirulloh". sekali lagi, ucapkan bersama-sama "ASTAGHFIRULLOH". Benar-benar tong kosong berbunyi nyaring. Kebetulan sahabat IPM, kemarin ada pencerahan dari Bapak "Bupati" Muhammadiyah Sukoharjo dalam sambutannya di Hari BerMuhammadiyah. Mari kita kulas bersama-sama.
Dalam acara Hari bermuhammadiyah kemarin, 7 Juli 2013 M, Bapak Guntur Subyantoro selaku Ketua Umum Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sukoharjo memberikan pencerahan dalam sambutan beliau. Muhammadiyah menentukan awal Ramadhan tepat pada hari Selasa, 9 Juli 2013. Hasil ini berdasarkan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal, mengingat begitu banyaknya metode penetapan awal bulan "Hijriyah".

Mengapa harus Metode Hisab Hakiki Wujudhil Hilal?
Firman Allah dalam surat ar-Rahman ayat 5 dan surat Yunus ayat 5 ;

Artinya: “Matahari dan Bulan beredar menurut perhitungan” [QS. Ar-Rahman (55): 5]


Artinya: “ Dia-lah yang menjadikan Matahari bersinardan Bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya bagi Bulan itu manzilah-manzilah, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui” [QS. Yunus (10) :5]

pada 2 ayat di atas disebutkan sudah menunjukkan bahwa Bulan dan matahari memiliki sitem peredaran yang ditetapkan oleh Sang Pencipta dan peredarannya itu dapat dihitung. Penegasan bahwa peredaran matahari dan Bulan dapat dihitung bukan sekedar informasi, melainkan suatu isyarat agar dimanfaatkan untuk penentuan bilangan tahun dan perhitungan waktu secara umum.

Ini lho Hisab Hakiki Wujudhil Hilal


Muhammadiyah dalam penyusunan kalender Hijriyah baik untuk keperluan sosial maupun ibadahnya (Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah) menggunakan kriteria yang dinamakan "Hisab Hakiki Wujudul Hilal". Kriteria ini menyatakan bahwa awal bulan Hijriyah dimulai apabila telah terpenuhi tiga kriteria berikut:
1) telah terjadi ijtimak (konjungsi),
2) ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan
3) pada saat terbenamnya matahari piringan atas Bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud). Ketiga kriteria ini penggunaannya adalah secara kumulatif, dalam arti ketiganya harus terpenuhi sekaligus. Apabila salah satu tidak terpenuhi, maka bulan baru belum mulai. Atau dalam bahasa sederhanya dapat diterjemahkan sebagai berikut:



"Jika setelah terjadi ijtimak, Bulan terbenam setelah terbenamnya Matahari maka malam itu  ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian Bulan saat Matahari terbenam".



Berdasarkan posisi hilal saat Matahari terbenam di wilayah Yogyakarta dan beberapa bagian wilayah Indonesia maka baru pada syarat wujudul hilal sudah terpenuhi walaupun sebagian wilayah Timur syarat wujudul hilal belum terpenuhi karena hilal berada di bawah ufuk saat matahari terbenam. Berdasarkan prinsip transfer wujudul hilal, maka seluruh kawasan Indonesia dinyatakan 'hilal telah wujud' sehingga awal bulan ditetapkan jatuh pada :

Selasa, 9 Juli 2013

Nah lho udah tahu kan kenapa kita-kita pada puasa hari Selasa? Ehmmmmm, gitu dong sahabat IPM. Jadi kita bukan sekedar ngikut aja, minimal tahu lah "CORO BODHONE" atau dasar-dasarnya. Dengan gitu PD aja lagi ngibadah sepuasnya di Bulan penuh berkah ini.

Eits...... baca ini juga sahabat IPM, tak kasih referensi ya....

Minggu, 23 Juni 2013

Wahai Pemuda...

Wahai Pemuda, Bukalah Mata Kalian Terhadap Permasalahan Umat..!!!

Oleh: Fariz El-Hazmi


Kondisi Generasi Muda Islam Saat Ini
Dalam sebuah angket yang disebarkan kepada mahasiswa di beberapa Universitas Islam di Indonesia, diutarakan pertanyaan mengenai masalah-masalah besar yang mengusik pikiran para responden di kalangan pemuda saat ini. Hasil yang didapatkan dari angket tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Rasa galau karena belum memiliki pasangan (pacar).
2.      Keinginan untuk menikah, tapi keadaan tidak mendukung.
3.      Kesulitan dalam menyelesaikan kuliahnya.
4.      Bokek, tidak memiliki uang yang cukup.
5.      Cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dan lain-lain.
Kelima masalah tersebut adalah 5 masalah tertinggi yang sedang di para responden saat ini menurut pandangan mereka. Itulah serentetan masalah yang ditulis mahasiswa-mahasiswa muslim di Indonesia. Kenyataan itu telah mewakili keadaan generasi muda  Indonesia saat ini dan generasi muda Islam secara umum. Kenyataan itu pula yang mungkin akan kita temukan di kalangan muda di seluruh dunia.
Masalah-masalah yang dianggap penting oleh para generasi muda saat ini sepeerti yang tertera di atas tentu hanya menggambarkan masalah pribadi mereka. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah kehidupan pribadi tanpa peduli terhadap permasalahan yang sedang dihadapi umat Islam saat ini. Mereka seakan tidak peduli terhadap masalah penjajahan dan kedholiman yang terjadi di Negara-negara berpenduduk muslim. Penindasan, penyiksaan dan juga pembantaian di Negara-negara berpenduduk muslim seperti yang terjadi di Palestina, Suriah, Myanmar, Kashmir, Cechnya dan masih banyak lagi. Mereka juga tidak peduli terhadap masalah penyerangan terus-menerus yang dilancarkan media-media massa (terutama Barat) terhadap Islam. Penghinaan secara terang-terangan kepada Rasulullah, para shahabat, para ulama, juga para aktivis muslim. Mereka juga tidak peduli terhadap masalah tidak adanya penerapan syariat Islam di Negara-negara Islam. Malah, mereka lebih menikmati hukum-hukum buatan manusia dan menolak Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan masih banyak lagi permasalahan umat yang tidak dipedulikan oleh generasi muda Islam saat ini.

Apakah Penyebabnya?
Ketidakpedulian generasi muda terhadap permasalahan umat seperti yang tertera di atas tentu ada penyebabnya. Disini akan dipaparkan beberapa sebab tersebut, yaitu:
1.      Hilangnya Tarbiyah Islamiyah.
Ketiadaan tarbiyah Islamiyah inilah yang mengakibatkan pemuda Islam kini terus tertidur dari harapan yang ada. Juga mengakibatkan jauhnya generasi muda Islam dari agamanya, dari Al-Qur’an, juga Sunnah-sunnah nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam.
Jika kita sejenak menengok kepada generasi terbaik umat Islam yaitu generasi para shahabat dan para salaf terdahulu, kita akan menemukan bahwa tarbiyah Islamiyah yang diberikan Rasulullahlah yang mampu membentuk mereka semua menjadi generasi terbaik. Tarbiyah Islamiyahlah yang mampu mengalirkan darah berkualitas unggul pada nadi mereka. Sementara saat ini, tarbiyah Islamiyah telah dikesampingkan dan lebih memilih metode-metode pendidikan yang lain, metode-metode yang belum teruji mampu membentuk generasi Islam yang rabbani. Justru, metode-metode tersebut malah memperpuruk keadaan umat Islam. Metode-metode yang hanya mampu membentuk intelektualitas tanpa spiritualitas. Sehingga yang ada saat ini hanyalah pemuda-pemuda yang pandai berbicara dan merangkai kata tanpa disertai landasan dari Al-Qur’an dan As-sunnah dan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan.
2.      Krisis Keteladanan
Remaja dan pemuda muslim kini tengah terancam bahaya serius, yaitu minimnya kehadiran sosok teladan yang layak ditiru. Padahal, pola pendidikan dengan “sistem mencontoh” seribu kali lebih efektif dari pada “sistem mendengar ataupun membaca”. Perbuatan seorang dai/ustadz yang dilihat jamaahnya, lebih mengena disbanding seribu judul ceramah yang dia serukan kepada mereka.
Kadang ada perbuatan dai/ustadz yang tidak sesuai dengan ceramahnya. Hal ini akan menjadikan jamaah ragu akan kesungguhan sang dai dalam membina mereka. Padahal Allah juga telah memperingatkan dalam firmannya:
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (Ash-Shaff [61]:3) 
Bagaimana mana bisa seorang ayah melarang anaknya merokok sementara sang ayah sendiri justru merokok? Bagaimana bisa seorang ayah mengajari anaknya bermuamalah dengan benar terhadap sesame sementara sang ayah sendiri terus menerus bertengkar, mencaci orang lain, dan berkata kasar? Bagaimana mungkin sebuah pemerintahan melarang rakyat berbuat curang sementara para pejabatnya terus menerus melakukan korupsi? Dan Bagaimana mungkin pemerintah dan para aparat penegak hukum melarang tindak kekerasan dan terorisme sementara mereka terbiasa berbuat kasar, keras dan menteror masyarakat?
Oleh karena itu, kita harusnya menyadari bahwa keteladanan adalah hal yang sangat urgen bagi para remaja dan pemuda Islam. Karena keteladananlah yang akan membentuk perilaku seseorang. Sayangnya, saat ini sebagian generasi muda kita memposisikan sederet artis sebagai teladan dan idola mereka. Mengidolakan pemain sepak bola, bintang film, maupun penyanyi mesti seringkali idola mereka banyak bermaksiat bahkan bukan seorang muslim. Ada juga yang mengidolakan pembesar marxisme, komunis, Kristen, Yahudi, Atheis, penguasa jahat dan sastrawan sesat sebagai lentera hidup yang terus mereka idamkan. Dan sedikit sekali dari mereka yang mengidolakan Rasulullah meski Allah telah menjelaskannya dengan gamblang:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab[33]:21)
3.      Media Informasi
Media informasi memegang peran yang amat strategis. Jika saja metode pendidikan adalah salah satu sayap dalam membentuk pola pikir manusia, maka media informasi adalah sayap kedua.
Sayangnya, di zaman ini banyak sekali media yang berusaha menjauhkan kaum muslimin dari agamanya. Mereka bekerja untuk memasyarakatkan liberalisme, menghancurkan sendi-sendi akhlak masyarakat, menyajikan hiburan-hiburan yang melalaikan kita dari agama, bahkan beberapa dari mereka tanpa tedeng aling-aling dengan terang-terangan memojokkan umat Islam, menghujat dan menglecehkan beberapa syari’at Islam dan masih banyak lagi maker yang dilakukan beberapa media untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama.
Berkaitan dengan pemuda, tentu hal ini sangat berpengaruh pada pola pikir mereka. Di saat proses pencarian jatidiri dengan kemampuan berpikir yang masih sangat labil, sangat mungkin bagi mereka terpengaruh oleh virus-virus media yang terus menerus dihembuskan setiap harinya.

Apa Solusinya?
Jika ditanya apa solusi yang tepat, tentu kita akan menjawab kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tapi disini akan dituliskan beberapa nasihat yang akan menjadi langkah riil kita untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
1.      Jauhilah Kemaksiatan!
Mungkin hal yang paling mengancam generasi muda muslim juga kaum muslimin pada umumnya adalah tenggelam dalam lembah maksiat. Karena ketika kita jatuh dalam lembah maksiat, hal itu akan menjadi hati kita sakit, bahkan mati. Bagi seorang muslim, kemaksiatan jauh lebih bahaya daripada binatang buas. Kemaksiatan dapat dengan mudah meresap ke pori-pori hati hingga menjadikannya tak mampu menangkap kebajikan dari luar. Dinasihati tak didengar, diperingati tak dihiraukan, hingga dibacakan Al-Qur’an dia tetap tak tersentuh. Melihat peristiwa menyentuhpun, dia akan pura-pura tidak tahu-menahu. Itulah indikasi terinfeksinya virus maksiat pada diri seseorang.
Ketahuilah, bahwa menjauhkan diri dari maksiat adalah lebih utama disbanding mengerjakan kebajikan. Seorang yang meninggalkan maksiat meski tidak membaca Al-Qur’an lebih baik daripada dia membaca Al-Qur’an tapi masih bermaksiat. Meskipun yang terbaik tetaplah seorang yang meninggalkan maksiat juga tetap membaca Al-Qur’an. Seperti sabda Nabi Shalallahu’alaihi wa  salam dari Abu Hurairah, “Apa yang kami larang maka jauhilah. Dan apa yang diperintahkan kepadamu, kerjakanlah semampumu.”
2.      Pelajarilah Agamamu!
Bagaimana kita bisa mengikat diri dengan agama yang kita tidak tahu? Bagaimana bisa kita memegang sunnah, manhaj, atau way of life sedangkan kita tidak tahu menahu tentangnya?
Dalam proses kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, kita tentunya harus memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka, mulailah menjelajahi samudra ilmu ini dengan memahami dasar-dasar agama Islam! Lalu dilanjutkan dengan mempelajari cabang-cabang yang lain. Karena mempelajari agama ini merupakan kewajiban bagi setiap muslim sebagaimana sabda Nabi Shalallahu’alaihi wa  salam, “Menuntut ilmu itu kewajiban bagi setiap muslim”.
3.      Rindulah Dengan Masjid!
Masjid merupakan bagian terpenting dalam membentuk pribadi yang ideal. Shalat jamaah tidaklah sekadar untuk memperbanyak jumlah pahala, tetapi juga alat untuk mengukur kadar keimanan kita kepada Allah sebagaimana firmannya,
“Hanyalah orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah, orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.” (At-Taubah[9]: 18) 
4.      Pilihlah sahabatmu!
Betapa banyak kisah perjalanan iman yang telah ditempuh seseorang, namun dapat dengan mudah dikembalikan ketitik pertama dalam langkahnya, bahkan kembali lagi ke jalan hitam ketika bertemu dengan teman dan lingkungan yang buruk. Juga betapa banyak orang yang telah menempuh perjalanan kemaksiatan, namun mampu bertaubat dan kembali ke jalan yang benar ketika bertemu dengan teman dan lingkungan yang baik. Jangan katakan, “aku mampu menjaga diri, dan takkan terpengaruh dari dunia luar.” Karena akhlak, agama, dan kepribadian seseorang akan menyesuaikan lingkungan dimana ia berada sebagaimana sabda Nabi Shalallahu’alaihi wa  salam, “Seorang manusia di atas agama temannya, maka lihatlah dengan siapa dia berteman.”           
5.      Pekalah Terhadap Zamanmu!
Terkadang remaja yang memegang teguh agamanya terlalu sibuk dengan urusan ilmu, baik ilmu syar’I maupun umum. Hingga terkadang mereka merasa hidup pada sebuah “pulau damai” tanpa ombak dan badai. Merasa bahwa yang terpenting adalah terus menuntut ilmu.
Adalah hal yang mustahil ketika seorang yang begitu tertutup mampu merubah kondisi masyarakat. Buka dan pelajari lembaran fakta kehidupan yang tengah terjadi! Tidak hanya kehidupan sekolah dan kampus, bukan juga hanya kehidupan masyarakat di negara kita, melainkan lebih luas dari itu semua. Yaitu kehidupan umat Islam bahkan umat manusia sedunia.
Adalah hal yang lucu ketika seseorang bercita-cita menjadi reformer di masyarakatnya, di negaranya, ataupun di dunia tetapi tidak mengikuti perkembangan masyarakatnya, lingkungannya, dan dunia. Atau bahkan malah menyepelekan lingkungan yang mengitari masyarakatnya. Maka sudah seharusnya bagi kita untuk lebih peka terhadap lingkungan disekitar kita, sehingga kita bisa menjadi pribadi yang berkualitas, yang akan selalu menjadi topangan hidup umat.


Sabtu, 01 Juni 2013

Gerakan Militan


Gerakan Islam Militan di Indonesia

Gerakan Salafi radikal di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh faktor-faktor di Indonesia di atas. Gerakan ini juga muncul sebagai respon terhadap buruknya pelayanan Negara terhadap masyarakat. Namun, gerakan ini jelas tidak mungkin muncul pada masa orde baru. Kuatnya kontrol Negara terhadap masyarakat mengakibatkan gerakan Salafi radikal tidak muncul saat itu. Namun demikian, harus diingat juga bahwa benih-benih gerakan ini telah disemai sejak dekade 1980-an ketika dunia menyaksikan kekuatan Islam global.

Diantaranya gerakan Islam yang dilabeli radikal adalah: Pertama, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang dideklarasikan pada bulan Agustus 2000 di Yogyakarta. MMI mempunyai agenda utama, yakni sosialisasi syariat Islam, jihad dan penegakan syariat Islam. Kedua, Front Pembela Islam (FPI) adalah gerakan Salafi radikal yang menitikberatkan pada formalisasi syariat Islam dan perjuangan menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Orientasi politik FPI bersifat lokal. Ketiga, Laskar Jihad pimpinan Ustadz Ja’far Umar Thalib. Muatan ideologi salaf yang kental membuatnya berbeda dengan FPI. Terakhir, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Perjuangan mereka adalah menyerukan dunia Islam bersatu dalam Khilafah Islamiyah. Orientasi politik HTI bersifat transnasional.

"Indonesia adalah sedikit diantara Negara-negara Muslim yang bisa menerima isu-isu demokrasi dan Globalisasi (Hefner, 2000)"

Banyak ahli yang berpendapat bahwa Indonesia adalah sedikit diantara Negara-negara Muslim yang bisa menerima isu-isu demokrasi dan Globalisasi (Hefner, 2000). Pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa Islam di Indonesia lebih moderat dan inklusif dibandingkan Islam di Timur Tengah, sehingga muslim Indonesia dapat menerima ide-ide demokrasi dan kebebasan sipil. Namun, runyamnya persoalan di lapangan dan mandeknya proses reformasi, mungkin prediksi Hefner tidak bisa terwujud dalam waktu dekat. Apalagi sekarang setelah peristiwa 11 September (World Trade Center), dunia memasuki era perang global melawan terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya.